header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Berdialektika Immaterialis Dengan Perancis *)

SOPIR, toilet, trotoar dan bangkrut: apa persamaan empat kata itu? Harap jangan kaget: keempatnya sekadar contoh kata-kata Perancis yang kita serap masuk ke dalam bahasa Indonesia. Dua yang di tengah masih mirip aslinya. Orang Perancis mengejanya toilettes dan trottoir dan melafalkan “oi” sebagai “oa.” Dua yang lain sudah kita ubah dalam ejaan sendiri, karena sopir dalam bahasa Perancis adalah chauffeur dan mereka mengeja bangkrut sebagai banqueroute.

Bagaimana mungkin kita bisa menyerap bahasa ini? Bukankah—beda dengan  Indochine (sekarang Vietnam, Laos, dan Kamboja)—kita tidak pernah dijajah Perancis? Dengan contoh queijo menjadi keju dan manteiga menjadi mentega, serapan bahasa Portugis masih lebih bisa dipahami, karena kita memang pernah dijajah Portugal. Begitu pula bahasa Belanda. Namun, bahasa Perancis? Jawabannya: bahasa itu kita serap lewat bahasa Belanda.

Tanpa disadari, saat menyerap beberapa kata bahasa Belanda (kantor, atret, asbak, handuk, dan lain-lain), ternyata juga kita serap kata-kata Perancis. Kita seperti berbelanja di pasar loak, menyerap bahasa dari sumber kedua, bukan sumber aslinya. Maka, kita tidak tahu lagi bahwa itu berasal dari bahasa Perancis. Siapa menduga kata “sopir” berasal dari bahasa Perancis chauffeur? Sayangnya, kalangan kelas menengah perkotaan zaman sekarang sudah kian jarang memakai kata “sopir.” Dasar keminggris (alias keinggris-inggrisan), mereka sekarang memilih menggunakan driver, karena konon kata ini lebih bergengsi. Padahal, justru demi gengsi itu, orang Inggris malah lebih memilih menggunakan kata Perancis chauffeur.

Setidaknya, selama tiga abad, bahasa Perancis merupakan bahasa pengantar kalangan elite Eropa. Maklum, pada abad ke-17, ke-18, dan ke-19, pengaruh Perancis lumayan besar. Bahkan, selama tiga tahun (1811-1813) Perancis (di bawah Napoléon Bonaparte) sempat menjajah Belanda. Alhasil sampai sekarang pengadilan Belanda tetap dibagi dalam sistem arrondissement Perancis. Itu berarti sistem pengadilan Belanda punya organisasi sendiri yang tidak sejalan dengan organisasi pemerintahannya. Bahkan, satu arrondissement bisa mencakup sampai tiga provinsi. Motto negara Belanda juga tertera dalam bahasa Perancis: Je maintiendrai (Akan Saya Pertahankan).

Merdeka dari penjajahan Perancis, Belanda yang sebelumnya republik justru berubah menjadi kerajaan. Selain sehari-hari berbahasa Perancis, tiga raja pertama mereka, yaitu Willem I, Willem II dan Willem III (ketiga-tiganya adalah juga raja Hindia-Belanda) menulis buku harian dalam bahasa itu. Tidak mengherankan bila  bahasa Belanda menyerap banyak kosa kata bahasa Perancis. Pada gilirannya, ketika kita menyerap bahasa Belanda, terserap pula kata-kata Perancis. Tentu saja jumlah serapan bahasa Perancis kita tidak sebanyak serapan yang dilakukan terhadap bahasa Belanda.

Walaupun demikian, tetap harus diakui bahwa dalam kancah diplomasi internasional, bahasa Perancis memiliki pengaruh tidak kecil. Kosakata dunia juga dihuni beberapa istilah Perancis. Yang paling sering digunakan adalah coup-d’état, yang kita eja sebagai “kudeta.” Terakhir, istilah itu digunakan pada pertengahan November 2017, ketika Presiden Zimbabwe Robert “Soeharto” Mugabe digulingkan dari kekuasaannya. Selain itu, ada vis-à-vis (berhadap-hadapan), crème de la crème (terbaik dari yang terbaik), tête-à-tête (pembicaraan empat mata) dan déjà-vu (pernah lihat) yang belakangan sering kita gunakan. Tidak boleh dilupakan ungkapan Perancis c’est la vie yang berarti begitulah kehidupan.

Di luar itu, lumayan juga kata sehari-hari bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Perancis. Bagasi dari bagage, garasi dari garage, jaket dari jacquette, koran dari courant, ambulans dari ambulance, kado dari cadeau, karoseri dari carrosserie, gratis dari gratuit, kontan dari contant, populer dari populair, juga prestise dari prestige. Tak ketinggalan losmen dari logement.

Di bidang politik, selain kudeta, kita juga mengenal “parlemen” yang berasal dari parlement. Kemudian “departemen” (sekarang diganti menjadi kementerian) yang berasal dari département. Istilah militer seperti batalion berasal dari bataillon, sedangkan “peleton” aslinya adalah peloton. Resimen berasal dari régiment. Perlengkapan angkatan udara “parasit” berasal dari kata parachut.

Kata-kata itu lebih dahulu masuk ke bahasa Belanda. Harap jangan mengira kata-kata itu berasal dari bahasa Inggris, karena jelas serapan bahasa Belanda lebih dahulu masuk ke dalam bahasa kita ketimbang serapan kata-kata bahasa Inggris. Yang terakhir itu baru berlangsung pada akhir abad ke-20, ketika pengaruh bahasa Belanda “mengering”, seiring dengan menipisnya generasi didikan Belanda yang fasih berbahasa si bekas penjajah.

Bahasa Perancis, di lain pihak, juga menyerap kata-kata bahasa Belanda. Kelasi dalam bahasa Perancis adalah matelot, konon berasal dari kata Belanda matroos. Tanggul yang bahasa Belanda-nya dijk, berubah menjadi digue ketika terserap bahasa Perancis. Paling menarik mungkin kata bolwerk (benteng pertahanan) yang berubah menjadi boulevard ketika diserap oleh bahasa Perancis. Itu jelas merupakan perubahan luar biasa, karena juga membawa perubahan makna. Dari bahasa Perancis itulah (dan bukan bahasa Belanda, padahal ini sumber aslinya) kita mengenal kata “bulevar.”

***

Bagaimana dengan bahasa Indonesia atau salah satu bahasa daerah di Nusantara? Apakah mungkin telah terjadi persilangan antara bahasa-bahasa itu dengan bahasa Perancis? Sebelum menjawab, perlu dikemukakan bahwa pada zaman Belanda dahulu ternyata sudah ada bumiputra Hindia yang menggebu-gebu belajar bahasa Perancis, setelah dia belajar dan menguasai bahasa Belanda. Jelas, dia paham makna penting bahasa Perancis di dunia internasional. Tokoh itu tidak lain Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Pertama kali Kartini berbicara mengenai keinginannya untuk belajar bahasa Perancis tatkala menulis surat kepada Stella Zeehandelaar pada 23 Agustus 1900. Antara lain dia menulis sebagai berikut:

Nu wil ik je ook nog iets vertellen, namelijk dat wij drietjes begonnen zijn met Frans te leren, uit de boekjes van Servaas de Bruijn. Wij hebben al een stuk of vier boekjes doorgeworsteld en komen je nu vragen ons eenvoudige, gemakkelijke Franse boeken te willen noemen (geen leerboeken). Pa heeft ons ook een leercursus Duits cadeau gedaan, doch als wij met het Frans ooit klaar komen kunnen, hopen we met het Engels te beginnen; 't Duits naderhand, als wij nog leven ten minste. We proberen nu Franse illustraties te lezen, maar lezen en begrijpen is twee, nietwaar? In den beginne maakten wij de dolste vertalingen, maar het gaat langzamerhand gelukkig beter. Wij zijn vol goeden moed. Roekmini beweerde eens in 't Frans te dromen; ze was met Chateaubriand in Louisiana, 't wonderschone land, dat hij beschreef. De Franse taal heeft veel overeenkomst met de onze, wat zinsbouw betreft, en ook de h is geheel als bij ons.

[Sekarang kepadamu juga ingin kuberitahu bahwa kami bertiga mulai belajar bahasa Perancis, menggunakan buku karya Servaas de Bruijn. Kami sudah menggumuli empat buku dan ingin bertanya padamu beberapa buku dalam bahasa Perancis yang mudah dibaca (bukan buku pelajaran bahasa). Ayah juga menghadiahi kami buku pelajaran bahasa Jerman, walau begitu kalau kelak kami sudah fasih berbahasa Perancis, maka kami akan mulai belajar bahasa Inggris; bahasa Jerman nanti saja, paling sedikit kalau kami masih hidup. Sekarang kami berupaya membaca ilustrasi bahasa Perancis, tetapi membaca harus dibedakan dari mengerti, bukankah begitu? Pada awalnya kami menerjemahkan dengan lucu, tetapi pelan-pelan membaik, syukurlah. Kami penuh semangat. Roekmini menyatakan pernah bermimpi dalam bahasa Perancis; konon dia bersama Chateaubriand di Louisiana, negeri yang ditulisnya dengan indah. Bahasa Perancis punya banyak persamaan dengan bahasa kami, dalam soal susunan kalimat, demikian pula lafal “h“ sama dengan bahasa kami].

Dialektika Imaterialis -01

Foto 1 Door Dusternies Tot Licht (Mengalahkan Kegelapan Menjambut Terang, judul terjemahan JW)

Cuplikan di atas mengungkap paling sedikit dua hal tentang cara Kartini, Roekmin, dan Kardinah belajar bahasa Perancis. Pertama, mereka belajar sendiri menggunakan buku-buku pelajaran bahasa Perancis karya Servaas de Bruijn, penulis Belanda. Artinya, mereka belajar bahasa Perancis dari bahasa Belanda. Kedua, dengan belajar tanpa guru, mereka lebih banyak menerjemahkan, bisa dari bahasa Perancis ke bahasa Belanda atau ke bahasa Jawa. Karena itu, Kartini melihat banyak persamaan antara bahasa Perancis dengan “bahasa kami”—yang dia maksud adalah bahasa Jawa. Sebagai contoh, “rumah hijau” yang dalam bahasa Perancis “la maison verte” dan bahasa Jawa “omah ijo”, sedangkan bahasa Belanda “het groene huis.” Jelas terlihat, baik bahasa Perancis maupun bahasa Jawa, mendahulukan omah/maison baru kemudian warna ijo/verte. Berbeda dengan bahasa Belanda yang terlebih dahulu menyebut groene alias warna hijau baru kemudian het huis atau rumah. Persamaan itulah yang dimaksud Kartini.

Dalam bahasa Perancis, huruf “h“ sering kali tidak dilafalkan, walaupun tertulis. Contohnya, heures yang berarti jam dilafalkan tanpa “h.“ Aksara Jawa juga menulis hånå, padahal yang dimaksudkan adalah ånå yang berarti ada. Perlu ditegaskan bahwa bahasa Jawa pada zaman Kartini ditulis dalam aksara Jawa dan tidak dalam huruf Latin. Dalam surat-suratnya, bila memberi contoh bahasa Jawa, Kartini menulis dalam aksara Jawa.

Dari penjelasan di atas layak dipertanyakan bagaimana mungkin Kartini dan adik-adiknya bisa belajar bahasa asing tanpa guru? Bukankah mereka harus dengan benar melafalkan kata-kata Perancis yang mereka pelajari, dan untuk itu mereka tidak bisa tidak butuh guru yang akan memberi contoh ucapan semestinya? Pertanyaan seperti itu akan memperoleh jawaban bila kita baca surat Kartini kepada Nyonya N van Kol tertanggal 12 Juli 1902. Di situ tertera alinea sebagai berikut:

Neen, helaas!Hollands is de enige Europese taal, die wij lezen, wat een groot verdriet is voor ons. Dolgaarne willen wij de moderne talen leren; 't is ene grote illusie van ons, om mooie werken van buitenlandse schrijvers eens te kunnen genieten in 't oorspronkelijke. Er is hier geen gelegenheid geweest om talen te leren. Nu zouden wij gaarne met het Frans beginnen, waarin een vriendinnetje van ons, ene onderwijzeres, die uw echtgenoot hier ook ontmoette, ons gaarne helpen wil.

[Sayangnya, bahasa Belanda adalah satu-satunya bahasa Eropa yang kami baca, betapa kami sangat sedih karenanya. Kami sangat ingin belajar bahasa modern; cita-cita besar kami adalah menikmati karya-karya penulis luar negeri dalam bahasa asli karya itu ditulis. Di sini tidak ada kesempatan untuk belajar bahasa. Sekarang kami ingin mulai dengan bahasa Perancis, seorang kenalan kami, seorang ibu guru yang juga pernah bertemu suami ibu, ingin membantu kami].

Ibu guru yang dimaksud ialah Annie Glaser, seorang perempuan muda Belanda yang datang ke Jepara dari Belanda untuk mengajar. Selain ijazah guru, mejuffrouw (nona) Glaser juga memiliki ijazah mengajar bahasa Perancis—sesuatu yang tentu  sangat menggembirakan Kartini dan adik-adiknya. Apalagi ketika gadis Belanda itu menyatakan bersedia membantu apa saja. Dari sini bisa dipastikan satu hal: Kartini, Roekmini, dan Kardinah, semakin menggebu belajar bahasa Perancis. Niat itu pasti muncul karena ketiganya paham makna bahasa Perancis dalam pergaulan internasional. Bagaimana mungkin? Bukankah Kartini sempat menjalani pingitan sejak usia 12 hingga 16 tahun?

Tak pelak, empat tahun “masa“ pingitan itu (dari 1891 sampai 1895 untuk Kartini) justru semakin mendekatkan si gadis Jepara ini bukan saja dengan dunia di luar kamarnya, namun juga dengan dunia internasional. Itu berkat dua hal: buku-buku berbahasa Belanda yang “dengan rakus” dilahapnya serta korespondensinya dengan orang-orang Belanda. Akan tetapi, tidak sampai di situ saja urusan Kartini dengan bahasa Perancis.

Lebih menarik lagi, ketiga bersaudara itu ternyata juga mengajar bahasa Perancis kepada anak-anak perempuan didikan mereka. Dalam surat-suratnya, Kartini tidak menyinggung-nyinggung soal pengajaran bahasa Perancis, bisa jadi karena dia tidak memiliki ijazah mengajar, apalagi mengajar bahasa Perancis. Namun, bila kita mengamati dengan saksama foto-foto peninggalan Kartini dan kedua adiknya, akan terlihat sebuah foto yang menunjukkan kegiatan mengajar bahasa Perancis. Foto itu menampilkan Kartini dan Roekmini bersama 11 murid di sekitar papan tulis. Di papan tulis itu tertera tulisan dalam bahasa Perancis bertajuk “Le petit chaperon rouge” yang berarti “Topi merah kecil.” Itu adalah judul sebuah cerita dongeng anak-anak Perancis. Itulah yang diajarkan Kartini kepada murid-muridnya!

Dialektika Imaterialis -02

Foto 2 RA Kartini -- Sekolah Perancis

 

Siapakah bumiputra yang begitu bersusah-payah belajar serta mengajar bahasa Perancis pada pergantian abad ke-19 menuju abad ke-20? Yang lebih menarik, mereka melakukan itu atas inisiatif sendiri, bukan karena harus mengikuti pelajaran sekolah. Lagi pula sekolah mana di Indonesia zaman sekarang yang mengajarkan bahasa Perancis kepada murid-muridnya? Tak pelak, itulah keistimewaan Kartini yang tak tertandingi.

***

Bagaimana dengan persinggungan bahasa Indonesia dengan bahasa Perancis? Karena tidak pernah dijajah Perancis, maka nyaris tak satupun kata bahasa Indonesia diserap oleh bahasa Perancis. Namun, ada pengecualian dan ini menyangkut tiga kata: “orang utan” , “amok”, dan “kampong” yang juga dikenal dalam bahasa Perancis serta beberapa bahasa Eropa lainnya. Di Eropa, tampaknya memang hanya bahasa Belanda yang banyak menyerap kata-kata bahasa Indonesia, misalnya, senang, manusje (manusia), toko, dan amper (hampir). Sekarang, keempat kata itu (dan tentunya lebih) sudah terserapdalam bahasa Belanda. Akan tetapi, setidaknya ada dua ungkapan bahasa Perancis yang menggunakan kata “Jawa.” Pertama, faire la java (berbuat Jawa). Definisi lengkap tercantum pada Wiktionnaire Perancis, faire la java adalah “Participer à une fêtenocturne avec musique et alcoolsjusqu’aubout de la nuit. Artinya, kira-kira, “ikut serta dalam pesta malam dengan musik dan alkohol sampai benar-benar larut malam.” Tampaknya, faire la java berarti pesta pora gila-gilaan.

Kemudian carrefour javanais yang kurang lebih senada, kendati ini berkisar urusan lalu lintas dan bukan mengenai belanja, apalagi soal pasar swalayan. Jika ada dua mobil bertemu di sebuah perempatan jalan dan salah satu ingin terus sementara yang lain hendak belok, maka, dalam keadaan tanpa lampu lalu lintas, keduanya harus saling memberi kesempatan untuk lewat lebih dahulu. Bila salah satunya mempersilakan yang lain, dia boleh melakukan hal itu. Bila tidak ada tanda dan keduanya saling berebut, orang Perancis akan menyebut mereka telah melakukan “carrefour javanais” yang kurang lebih berarti “ perempatan Jawa. ” Perempatan seperti itu tampaknya memang tidak terlalu nyaman, bahkan agak berbahaya. Seorang teman Perancis berkabar bahwa sekarang istilah itu sudah diganti menjadi “carrefour à l’indonésienne” atau “le croisement à l’indonésienne”. Tidak jelas kapan persisnya pergantian itu terjadi, tetapi orang Perancis akhirnya sadar juga bahwa Jawa sekarang merupakan salah satu pulau di Indonesia. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa semula bahasa Perancis mengenal dua ungkapan yang menggunakan kata Jawa.

Dialektika-Imaterialis--03Foto 3 Voyage de Paris à Java (Perjalanan dari Paris ke Jawa), sebuah novel khayalan karya sastrawan aliran realis Honoré de Balzac (1799-1850).

Ada beberapa kemungkinan mengapa orang Perancis sampai dua kali menggunakan “Jawa” untuk menggambarkan situasi yang tidak terlalu menguntungkan itu. Pertama, Jawa (la java) adalah “sejenis” tarian berpasangan yang lebih bebas dari walsa dan populer pada tahun 1920-an.Kedua, tak kalah pentingnya, Jawa sempat populer di Perancis pada abad ke-19. Popularitas itu agaknya berawal pada 1832 tatkala terbit Voyage de Paris à Java (Perjalanan dari Paris ke Jawa), sebuah novel khayalan karya sastrawan aliran realis Honoré de Balzac (1799-1850). Balzac, yang tidak pernah ke Jawa, menggambarkan Jawa sebagai pulau mistik dengan kemungkinan tak terbatas, dunia eksotis dengan wanita yang bisa hamil hanya berkat terpaan sinar matahari, pohon-pohon dengan buah beracun, atau kelapa yang tidak lain adalah telur naga yang siap menetas, dan segala macam fantasi lainnya. Tentu saja itu penggambaran awal abad ke-19, ketika orang Eropa umumnya dan Perancis khususnya masih belum banyak  tahu tentang Jawa, tetapi—berkat revolusi industri—benar-benar ingin berpetualang menengoknya.

Dialektika-Imaterialis--04

 Foto 4. Makam Honoré de Balzac di Père La-chaise, Paris (dokumentasi JW)

Penggambaran itu tampaknya cukup membuat khalayak Perancis tergelitik untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Jawa. Adalah penyair Arthur Rimbaud (1854-1891) yang sangat terdorong sampai dia benar-benar melawat ke Jawa. Bulan Juli 1876 dia tiba di Batavia sebagai salah satu prajurit bayaran Belanda yang akan menjalani latihan militer untuk dikerahkan bagi penaklukan Aceh. Pada 2 Agustus 1876, Rimbaud tiba di Tuntang, dekat Salatiga, tempat dilakukannya latihan militer. Namun, pada 15 Agustus tahun yang sama, dia menghilang. Ternyata dia melakukan desersi dan pada awal Desember 1876 tiba-tiba dia nongol di Charlesville, kota kelahirannya di Ardennes, Perancis utara. Sekarang di rumah dinas walikota Salatiga terpampang sebuah plakat untuk mengenang perlawatan Rimbaud ke kota sejuk di Jawa Tengah ini. Plakat tersebut dipasang pada 1997 dan ditandatangani oleh Thierry de Beaucé, waktu itu duta besar Perancis untuk Indonesia.

Dialektika Imaterialis -05

Foto 5 Plakat Arthur Rimbaud jang dipasang di rumah dinas wali kota Salatiga (dokumentasi JW).

Pada 1889, publik Perancis (khususnya Paris) akhirnya berkesempatan melihat langsung orang Jawa tulen, saat mereka berbondong-bondong menyaksikan Le village javanais (desa Jawa). Itulah paviliun Belanda pada l’Exhibition universelle (pameran semesta) yang diselenggarakan untuk memperingati seabad Revolusi Perancis. Di situ hadir para pengrajin dari Surabaya dan Yogyakarta, penabuh gamelan Sari Onéng dari Desa Parakan Salak, dan tak ketinggalan para penari keraton Mangkoenegaran, Solo.

Dialektika-Imaterialis--06

Foto 6. l'Exposition universelle (Pameran Semesta) 

Kalangan yang kritis pasti bertanya-tanya bagaimana mungkin beksan (tarian) keraton Mangkoenegaran tampil diiringi gamelan Sunda? Hal tersebut merupakan dampak keputusan penguasa kolonial waktu itu. Yang datang ke Paris adalah kalangan swasta, antara lain Adriaan Holle, pemilik kebun teh Parakan Salak, dekat Sukabumi. Dia tidak bertindak atas nama pemerintah Den Haag. Sejak awal, pemerintah kerajaan Belanda menolak ikut serta dalam perayaan memperingati 100 tahun bubarnya monarki Perancis.

Walaupun demikian, media massa Perancis dibuat terkesima. Pelbagai resensi berisi pujian mendorong khalayak untuk serta-merta membanjiri Le village javanais, sehingga dalam tempo enam bulan pameran itu tercatat sampai 875 ribu pengunjung. Empat gadis penari keraton Mangkoenegaran (mereka bukan putri bangsawan) yang masih belia menjadi talk of the town. Tout Paris (seantero Paris) meramaikan mereka sebagai sensasi besar. Tak pelak, Jawa semakin dikenal khalayak Perancis. Digelar di sekitar Esplanade des Invalides, Le village javanais beserta penghuninya yang benar-benar berasal dari Jawa dan Sunda itu termasuk orang-orang pertama yang menyaksikan menara Eiffel, maklum pembukaannya merupakan puncak peringatan 100 tahun Revolusi Perancis.

Pementasan gamelan Sunda Sari Onéng memesona komponis Claude Debussy (1862-1918) yang berkali-kali menontonnya. Menyebut akord-akord musik Barat C dan F (tonika dan dominan) sebagai jamur bulukan yang hanya untuk menakut-nakuti anak-anak, menurut Debussy, gamelan justru lebih mampu menuangkan setiap nuansa, sampai yang paling sulit sekalipun. Dia tidak hanya kagum pada bunyi gamelan, tetapi juga pada rumitnya saling tindak antara pelbagai instrumen gamelan serta suara manusia, karena sangat taat prinsip contrepoint (contrapunt dalam bahasa Belandaatau counterpoint bahasa Inggris). Patut dicatat Debussy tidak membedakan Jawa dari Sunda. Dia juga tidak tahu gamelan Jawa, misalnya, mengenal tangga nada pélog serta sléndro.

Pada 1903 (empat belas tahun setelah gamelan Sari Onéng pentas), terbit kumpulan tiga komposisi piano tunggal karya Debussy berjudul Estampes. Nomor pertama dengan judul Pagodes merupakan sebuah pembaruan penting. Kalau musik aliran Romantis yang waktu itu berjaya sangat bergejolak dan berapi-api, maka musik Debussy yang disebut musik Impresionis cenderung lamat-lamat dan lebih mementingkan nuansa. Itu dicapainya dengan menggubah paduan nada (akord) yang mengambang dan tidak pernah mencapai penyelesaian. Caranya, antara lain, dengan menggunakan musik pentatonis lima nada, nada khas gamelan.

Bisa dipastikan pada abad 19 itu Jawa memang punya daya tarik tersendiri bagi khalayak Perancis, sampai-sampai tiga senimannya tergerak untuk berbuat sesuatu. Honoré de Balzac menulis novel fantasi, Claude Debussy menggubah karya musik bernuansa timur, sayangnya Arthur Rimbaud tidak menghasilkan apa pun, padahal dari ketiga seniman itu hanya dia — dan ini benar-benar keistimewaannya — yang sempat bertandang ke Jawa.

Dialektika Imaterialis -07

Foto 7 Honoré de Balzac, Arthur Rimbaud, dan Debussy

 

Harus dimaklumi saat itu Rimbaud memang sudah tidak berkarya lagi. Puisi-puisinya tercipta antara tahun 1870 (tatkala dia belum memasuki umur 16 tahun) dan 1874, ketika dia menginjak usia 20 tahun. Dua kumpulan puisinya Une saison en enfer (Semusim di Neraka) dan Illumination (Penerangan) merupakan perintis puisi modern. Karya-karya itu memengaruhi banyak seniman lain, bukan cuma sesama sastrawan (seperti TS Elliot atau Thomas Mann), tetapi juga komponis musik serius (Benjamin Britten), bahkan musik rock (Patti Smith).

Tidak lagi menulis puisi, selama beberapa bulan di Jawa pada 1876, Rimbaud juga tidak menulis surat kepada siapapun. Padahal, sejak usia 15 tahun (tahun 1869) dia sangat rajin menulis surat, baik kepada ibunya maupun adiknya yang bernama Isabelle. Dalam kumpulan karyanya, korespondensi tersebut mencapai ratusan halaman. Sayangnya, tidak ada bahan tertulis apapun tentang kunjungan ke Jawa, yaitu perlawatan pertamanya keluar Eropa. Alhasil orang tidak tahu apa dampak Jawa yang pernah dikunjunginya itu bagi dirinya atau bagi karyanya. Sesuatu yang memang amat disayangkan.

Kehampaan itu memunculkan spekulasi, terutama karena nama terkenal Rimbaud dan pengaruhnya yang meluas. Maka terbitlah pelbagai tulisan atau buku, baik fiksi maupun non-fiksi (esai), yang juga menulari penulis Indonesia. Salah satu esai membual bahwa sesudah melakukan desersi, Rimbaud mengembara di rimba belantara Jawa Tengah dan bertemu orangutan. Sejak kapan orangutan berkeliaran di belantara Jawa?

Langkah lebih cerdik adalah menulis fiksi, seperti dilakukan wartawan/penulis Triyanto Triwikromo yang menggubah cerita berjudul “Hantu di Kepala Rimbaud.” Seperti fiksi surealis Triyanto lainnya, dalam cerita itu bisa dibaca kisah lucu tentang tokoh Aku yang berupaya membujuk tokoh Raden (tampaknya yang disasar adalah perupa Raden Saleh) untuk tidak melukis melainkan mengarang cerita tentang Rimbaud bertandang ke Jawa menggunakan “perspektif musykil”.

Terus berlanjutkah saling silang Perancis dengan Jawa? Tampaknya, tatkala Indonesia lahir pada tahun 1940-an, bahasa Perancis sudah tidak lagi menyerapnya. Bahkan, seperti telah disebut, kini carrefour javanais sudah berubah menjadi carrefour à l’indonésienne. Namun, tak perlu khawatir. Itu sama sekali bukan berarti publik Perancis telah benar-benar melupakan Jawa.

Pada 1963, Serge Gainsbourg (1928-1991), penyanyi dan pencipta lagu ringan Perancis, menggubah sebuah lagu berjudul La javanaise (perempuan Jawa). Lagu berirama tenang itu berkisah tentang jatuh cinta sejenak ketika menarikan tarian »La javanaise«. Tampaknya itu hanya nama tarian dan tidak benar-benar berkaitan atau bersinggungan dengan Jawa.

Semula, Serge Gainsbourg menciptakan lagu itu untuk dia sendiri dan untuk Juliette Gréco, salah seorang penyanyi terkenal Perancis yang disebut oleh sastrawan Iwan Simatupang (1928-1970) sebagai penyanyi eksistensialis. Sekarang, »La javanaise« sudah berulang kali dibawakan oleh banyak penyanyi Perancis, termasuk seorang biduanita yang mewakili Perancis pada Festival Eurosong tahun 2012. Dia bernama Anggun Cipta Sasmi dan kita tahu dia benar-benar seorang perempuan Jawa.

***

Dialektika Imaterialis -08

Foto 8 Gerbang Village Javanais

 

Pada abad ke-21—tatkala jarak sudah bukan lagi faktor yang memperjauh sehingga dalam hitungan detik Jakarta bisa berhubungan dengan Paris— kita layak bertanya: masih berlanjutkah interaksi Perancis dengan Jawa/Indonesia? Dalam jejaring sosial bertebaran foto-foto bukan hanya orang Indonesia di sekeliling menara Eiffel (tahukah mereka bahwa nenek moyang kita hadir pada peresmian menara ini pada 1889?), tetapi juga orang Perancis di Borobudur; dan obyek wisata lain kedua negara. Kedua negara juga membina hubungan diplomatik pada tingkat tertinggi: pertukaran duta besar. Namun, adakah bahasa Indonesia terus berlanjut menyerap bahasa Perancis dan Perancis meneruskan terkesimanya pada Indonesia?

Dari perilaku kalangan kelas menengah perkotaan sekolahan yang mengganti kata sopir dengan sebuah kata dalam bahasa Inggris layak diduga keras bahwa di Indonesia bahasa Perancis sudah bukan lagi tergolong sebagai bahasa bergengsi. Langkah menyerap bahasa Perancis pasti juga sudah berhenti.

Saling silang kita dengan Perancis memang tidak (pernah) punya dasar ekonomi, penyerapan bahasa Perancis saja lewat bahasa Belanda; sehingga mungkin lebih tepat untuk menyebut dialektika kedua negara berlangsung secara immaterial.

Amsterdam akhir 2017

*) Versi awal terbit dalam Majalah Tempo, edisi 30 Desember 2013-5 Januari 2014, halaman 80.


Referensi

Benedict R O’G Anderson, Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination(London: Verso, 2005). ISBN 1-84467-037-6.

Iwan Simatupang, “Patates Frites”, dalam Tegak Lurus dengan Langit (kumpulan cerpen) (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1982), hal. 53-61.

Jamie James, Rimbaud in Java: The Lost Voyage(Singapura: Editions Didier Millet, 2011). ISBN 978-981-4260-82-4.

Joss Wibisono, Saling Silang Indonesia-Eropa: Dari Diktator, Musik hingga Bahasa(Jakarta: Marjin Kiri, 2012). ISBN 978-979-1260-16-9.

Marieke Bloembergen, De Koloniale vertoning: Nederland en Indië op de Wereldtentonstellingen (1880-1931)(Amsterdam: Wereldbibliotheek). ISBN 902841925X.

Marieke Blombergen, Koloniale inspiratie: Frankrijk, Nederland, Indië en de Wereldtentoonstellingen 1883-1931(Leiden: KITLV Uitgeverij, 2004). ISBN 90-6718236-2.

RA Kartini, Door duisternis tot licht: Gedachten over en voor het Javaansche volk, vierde druk (‘s Gravenhage: NV Electr. Drukkerij “Luctor et Emergo”, 1923).

Triyanto Triwikromo, “Hantu di Kepala Arthur Rimbaud”, dalam Ular di Mangkuk Nabi, kumpulan cerita (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2009), hal. 119-127. ISBN 978-979-22-4742-8.

 

Write a comment...
awesome comments!
Joss Wibisono

Joss Wibisono ialah penulis dan peneliti lepas yang menetap di Amsterdam, Negeri Belanda. Tulisannya terbit pada pelbagai media Tanah Air, seperti Tempo, Koran Tempo, Historia, dan Suara Merdeka (Semarang). Menerbitkan sejumlah buku, antara lain,  Saling-Silang Indonesia Eropa (non-fiksi 2012), Rumah Tusuk Sate di Amterdam Selatan (kumpulan cerpen, 2017) dan Nai Kai: Sketsa Biografis (novel pendek, 2017).

Latest from Joss Wibisono