header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
ULASAN

Tragedi Fahri Hamzah

  • Written by AK
  • Published in Ulasan

POLITIKUS penentang keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu akhirnya dipecat dari keanggotaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dialah Fahri Hamzah, politikus kelahiran Utan, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 10 Oktober 1971. Mantan aktivis mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta, itu tercatat sebagai salah satu eksponen gerakan mahasiswa yang turut serta menumbangkan rezim kekuasaan Orde Baru 1998. Dengan modal politik sebagai aktivis mahasiswa, Fahri Hamzah memenangi pertarungan pemilihan umum dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari PKS. Bahkan, sebelum dipecat dari keanggotaan PKS, menduduki jabatan Wakil Ketua DPR. 

Pada Senin, 4 April 2016, Fahri Hamzah menggelar konferensi pers. Dia mempersoalkan pemecatan dirinya dan merasa tidak punya kesalahan yang membuatnya harus dipecat dari keanggotaan PKS. Jika yang dipermasalahkan partai adalah sikap dan gaya bicara, maka itu jelas tidak bisa dijadikan alasan pemecatan. Fahri membandingkan dirinya dengan kader-kader lain yang terjerat hukum kasus korupsi, justru malah tak dipecat dari PKS.

Dengan menelaah “cerita” tersebut, hal mendasar yang patut digarisbawahi adalah tragedi politik seorang Fahri Hamzah dalam jagat PKS. Di satu sisi, Fahri adalah deklarator PKS, sehingga logis bila dia beredar di lingkaran elite PKS. Di sisi lain, sejarah PKS ditandai oleh pemecatan Fahri sekalipun dia tercatat sebagai salah satu deklator pendirian PKS. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa PKS yang tercitrakan solid secara organisasi justru memilih jalan keras dengan memecat salah seorang deklaratornya. Melalui pemecatan seorang deklarator partai, muncul kesan bahwa skenario penyelamatan partai dari sorot mata publik yang berang.

Bagi siapapun yang cermat mengikuti perpolitikan nasional, Fahri Hamzah adalah salah satu figur yang mudah diingat. Namun, sayangnya, ingatan publik terhadap sosok Fahri Hamzah tidak dalam konteks konstruktif. Publik justru menengarai ketokohan Fahri Hamzah penuh aura kontroversi. Celakanya, kontroversi yang diledakkan bukan merupakan anasir penting dalam totalitas proses pendewasaan demokrasi negeri ini. Kemenjulangan figur Fahri Hamzah sama dan sebangun dengan besarnya obsesi kontra KPK.

Di belantika perpolitikan nasional sebenarnya bertaburan tokoh penentang keberadaan KPK. Lahir melalui proses legislasi DPR, sejumlah politikus parlemen di Senayan malah ditetapkan KPK sebagai tersangka korupsi. Ibarat memelihara anak macan, KPK justru membesar sangat digdaya “memangsa” anggota-anggota parlemen sendiri. Dengan ucap kata berbungkus retorika, sehingga nyaris tak terendus di ruang publik, sebagian besar anggota parlemen sesungguhnya serupa dengan Fahri Hamzah: membenci KPK serta memilih obsi pembubaran KPK. Namun, hanya Fahri Hamzah yang terbiasa berkoar-koar di ruang publik demi mengekspresikan obsesinya yang menohok ke arah titik penentuan pembubaran KPK.

Dengan terus mengusung identitas elite PKS, personalitas politik Fahri Hamzah tiada lelah membidik keberadaan KPK. Logika yang terus-menerus dia lontarkan ke tengah kancah publik adalah ketidaklogisan adanya lembaga hukum yang superbody. KPK, menurut Fahri, terlampau jauh berfungsi sebagai lembaga superbody pada keseluruhan tatanan hukum nasional. Secara repetitif, ruang publik politik tersuguh narasi politik kontroversial seorang elite PKS bernama Fahri Hamzah.  Rencana amandemen undang-undang pemberantasan korupsi yang tersuarakan melalui ucapan Fahri ditujukan untuk memangkas kewenangan KPK dalam hal penyadapan.

Pada tataran lain, publik menyimak secara kritis keberadaan PKS. Bahkan, konstituen PKS sendiri mulai diliputi keraguan. Pertanyaan besar yang lantas membuncah di benak konstituen: masihkah PKS bersih dan peduli? Bukahkah dengan tagline tersebut berarti PKS pro-pemberantasan korupsi? Anehnya, mengapa justru Fahri Hamzah berbicara lain dan bersimpang jalan dengan PKS?

Penting dicatat, usai siaran langsung konferensi pers Fahri Hamzah, 4 April 2016, stasiun radio Elshinta mewartakan pesan pendek salah seorang konstituen PKS, “semula saya pendukung PKS. Tapi setelah melihat ulah Fahri Hamzah di televisi, saya tidak memilih PKS pada pemilu yang lalu. Setelah PKS sekarang memecat Fahri Hamzah, maka pada pemilu yang akan datang saya kembali akan memilih PKS.”

Suara konstituen PKS itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan dasar menyimak hubungan Fahri Hamzah dan PKS. Senada dengan salah satu konstituen PKS itu, elite-elite PKS pun merasakan hal serupa. Fahri Hamzah adalah satu hal, dan PKS adalah hal lain. Persis sebagaimana tersua dalam situs resmi PKS, sudah sejak akhir Desember 2015 Fahri Hamzah tertimbang dipecat sebagai anggota partai.

Demikianlah tragedi itu. Demikianlah! [Anwari WMK]***

Write a comment...
awesome comments!