header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Belajar Menjadi Negarawan

DI kolom Resonansi Republika, 3 Februari 2015, Buya Syafii Maarif berpendapat bahwa Indonesia saat ini sangat kekurangan negarawan. Pendapat yang sama juga diutarakan Wakil Presiden Boediono ketika berbicara di suatu forum di Jakarta pada Mei 2014. Saya bertanya kepada Boediono tentang persoalan terbesar di Indonesia. Dia menjawab bahwa persoalan itu adalah terlalu banyaknya politisi, namun sangat sedikit diantaranya yang berkualitas negarawan. 

Padahal, menurutnya, segala kebijakan di republik ini ditentukan oleh sekelompok orang yang beridentitas politisi itu. Dia memandang bahwa karut-marut terjadi berkat politisi yang tidak memiliki visi dan wawasan kebangsaan. Boediono mendorong generasi muda untuk lebih banyak terjun ke dunia politik dengan catatan mereka terlebih dahulu yakin dengan kualitas kenegarawanan mereka.

Buya menjelaskan definisi negarawan dalam pidatonya pada 29 Januari 2014 di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Menurutnya, negarawan adalah “sosok pemimpin yang lebur dan larut untuk kepentingan umum.”

Pertanyaannya, bagaimana masyarakat Indonesia dapat membina diri sejak sekarang agar di kemudian hari dia dapat menjadi sosok negarawan, seorang pemimpin yang lebur dan larut untuk kepentingan umum? Buya maupun Boediono, sepanjang yang saya ketahui, belum menjawab. Berikut adalah beberapa ide yang saya pikir tak ada salahnya untuk diperhatikan dan dicoba demi tujuan tersebut.

Membiasakan Diri Bersikap Asketik

Asketik adalah sikap sederhana, bersahaja, atau zuhud. Seorang asketik bolehlah seorang yang kaya raya, namun kekayaannya itu tidak digunakannya semata-mata untuk membangun rumah bak istana, membeli mobil mewah, atau mengoleksi barang mahal, misalnya. Pendek kata, dengan kekayaannya itu dia tetap hidup sewajarnya, tak memperturutkan hasrat untuk berfoya-foya, bersenang-senang, dan berperilaku hedonis. Prinsip asketisme adalah kita hanya melakukan sesuatu yang benar, diperlukan, seadanya dan secara proporsional, tidak berlebih-lebihan.

Sebagai ilustrasi, misalnya, ketika kita punya uang untuk beli gadget terbaru, tetapi karena gadget yang lama masih layak dan berfungsi, kita tidak jadi membeli. Itu namanya asketik. Ketika kita punya uang sisa yang bisa digunakan untuk beli tiket nonton konser atau film di bioskop, namun malah kita pakai untuk membiayai anak asuh, itu namanya asketik. Ketika kita punya uang tabungan yang lebih dari cukup untuk liburan keluarga, tetapi kita sumbangkan ke organisasi sosial, itu namanya asketik.

Dengan membiasakan diri bersikap asketik, kita akan terhindar dari sikap mencintai harta benda secara berlebihan. Kecintaan terhadap harta benda itu sering mengantarkan para pemimpin ke dalam jurang kenistaan, merampok uang rakyat. Dengan terbiasa bersahaja, kita akan jauh dari ambisi untuk mengayakan diri sendiri dan keluarga dengan segala cara demi mengejar life style konsumtif yang kita dambakan. Sikap seperti itu akan mengantarkan kita memiliki kualitas ambeg adil paramarta—mengutamakan kesejahteraan rakyat dan kepentingan umum.

Memiliki Pergaulan yang Luas

Untuk memperkaya kebijaksanaan, kita perlu berkenalan dan bersahabat dengan orang-orang yang berbeda keyakinan, suku, dan budaya. Hal itu akan membantu kita mendalami ilmu hikmah dengan belajar dan meneladani kebajikan-kebajikan yang diperbuat orang lain tak pandang apa latar belakang mereka.

Apabila kita perhatikan, saat ini muncul tren tumbuhnya “perumahan muslim” atau “perkampungan muslim” di sekitar kita. Itu buruk karena akan membuat segregasi, membatasi pergaulan, serta tidak mengizinkan terciptanya kohesivitas dengan anggota masyarakat lain yang berbeda. Ini perlu kita prihatinkan!

Terbatasnya pergaulan akan membuat seseorang berperilaku picik, seakan dia dan golongannya yang paling benar sendiri. Lebih jauh,dia bahkan akan mengkapling-kapling surga dan neraka: surga untuknya dan kelompoknya, neraka untuk siapa saja yang berbeda. Alih-alih menjadi sosok negarawan, ketika memimpin dapat dipastikan dia akan menjadi pemimpin tiran dan zalim—baik ketika dia dan kelompoknya termasuk mayoritas ataupun minoritas. Untuk menghindar dari sikap demikian, kita perlu memperluas jaringan pertemanan dan persahabatan dengan mereka yang berbeda.

Belajar Sejarah, Filsafat, dan Budaya

Melalui sejarah, seseorang dapat menggali kearifan negarawan masa lalu serta mengetahui asal mula suatu peristiwa. Apabila membaca sejarah, bagaimana kita tidak tertegun kagum dan terharu dengan sikap keteladanan kenegarawanan Bung Karno dan Bung Hatta ketika keduanya berbeda tentang konsepsi demorasi yang perselisihan mereka tercermin dalam Dekrit Presiden 1959 dan tulisan “Demokrasi Kita” (1960). Begitu pula Maria Ulfa dan Soepomo ketika keduanya memiliki perbedaan pandangan yang tajam tentang hak asasi manusia pada Sidang BPUPKI 1945, atau Mohammad Natsir dan DN Aidit tentang Islam sebagai dasar negara pada Sidang Konstituante 1959.

Ada beberapa kelompok di sekitar kita saat ini yang mungkin tak terlalu membaca sejarah, sehingga beraspirasi membuat Indonesia ini negeri khilafah Islamiyah atau negeri sekuler tanpa referensi nilai agama. Itu ide yang tak masalah asalkan dibangun dengan argumen yang pantas dan memperhatikan perdebatan panjang para pendiri republik dalam lini masa sejarah. Tapi itu yang biasa tak terjadi.

Kemudian, melalui filsafat, seseorang akan belajar tentang nilai dan etika. Dia akan belajar untuk berpikir dan bersikap kritis, tidak mempercayai begitu saja sebuah asumsi umum. Melalui filsafat dia akan lebih mengerti tentang keadilan, tentang hak dan kewajiban. Kedalaman ilmu dalam filsafat akan membantu orang itu menjadi seorang terdidik yang adil sejak dalam pikiran. Tidak mudah memberikan stigma, label baik versus buruk atau halal versus haram terhadap suatu objek.

Melalui budaya, dengan mempelajari local wisdom, produk-produk budaya (hikayat, wayang, tari, gaya arsitektur, dan sebagainya) seseorang akan mampu mengenal dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya, dan lingkungan yang lebih luas. Hal ini penting agar ketika seorang menjadi pemimpin, dia mampu relevan dengan konteks budaya di lingkungan yang dia pimpin dan efektif dalam menggerakkan perubahan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki strategi kebudayaan dalam kepemimpinannya.

Demikianlah ketiga ide saya tentang apa saja yang perlu kita lakukan sejak dini agar kualitas diri kita tertempa dan suatu saat mampu menjadi sosok negarawan. Dengan semakin banyak generasi muda membiasakan diri bersikap asketik, memiliki pergaulan yang luas, serta belajar sejarah, filsafat, dan budaya, suatu hari nanti Indonesia akan memiliki stok negarawan yang cukup. Dengan izin Tuhan, melalui tangan-tangan negarawan itu, Indonesia akan menjadi negari ingkang kaeka adi dasa purwa, panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah, tata tentrem, kerta raharja atau baldatun thayyibatun wa robbun ghafur.***

Write a comment...
awesome comments!
Muhammad Ghufron Mustaqim

Muhammad Ghufron Mustaqim yang lahir di Sleman, Yogyakarta, 15 Mei 1991, adalah pendiri, ketua umum, dan Direktur Eksekutif Forum for Indonesia (2011-sekarang), sebuah organisasi yang bercita-cita mendorong dan mendukung gotong royong antarsektor dalam inovasi sosial demi kemajuan Indonesia. Selain pernah bekerja sebagai konsultan manajemen di McKinsey & Company (2014), dia juga memiliki pengalaman di bidang industri minyak dan gas bumi serta energi untuk beberapa topik strategis maupun operasional.‎ Alumnus Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada itu banyak menulis tentang filsafat, sejarah, kebudayaan, kebijakan publik, manajemen, dan kepemimpinan, yang dapat diakses pada blog www.ghufromustaqim.com. Saat ini, Ghufron juga mengasuh Anak Panah Institute, sebuah lembaga independen bagi alumnus Mu'allimin Muhammadiyah, Yogyakarta, yang berusaha menghimpun dan menyiarkan pemikiran para alumni tentang tema-tema kemanusiaan, kebangsaan, keislaman, dan kemuhammadiyahan.