header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Menenggang atau Menertibkan Kompleksitas Sosial? - Debat Jurgen Habermas dan Niklas Luhmann tentang Masyarakat

INTEGRASI sosial di dunia kehidupan dan integrasi sistem institusional sesungguhnya saling mengandaikan. Kompleksitas sistem selalu disertai peningkatan rasionalisasi dunia kehidupan. Sebaliknya, peningkatan rasionalitas dunia kehidupan akan mendorong kompleksitas dan diferensiasi sistem. Inilah inti dari pemikiran Jurgen Habermas tentang dikotomi sistem dan dunia kehidupan sebagai komponen pembentuk masyarakat. Rumusan itu bukan hanya menunjukkan perbedaan antara Habermas dan Niklas Luhmann, tetapi juga persamaan di antara keduanya.

Habermas tak menyangkal bahwa reduksi kompleksitas, sistemisasi, dan regularisasi kehidupan sosial diperlukan untuk mengurangi beban dunia kehidupan dan mengefektifkan kehidupan bermasyarakat. Namun, jika Luhmann membayangkan proses diferensiasi dan sistemitasi tanpa batas, di mana semua entitas kehidupan, termasuk individualitas, kesadaran dan tindakan komunikasi dilihat sebagai sistem-sistem yang autopoesis, Habermas memberlakukan batas-batas proses diferensiasi dan tematisasi kompleksitas sosial. Imperatif sistem hanya perlu dan relevan bagi kehidupan ekonomi dan politik pemerintahan, dan tidak boleh mendeterminasi ranah masyarakat, budaya, dan individualitas. Bagaimanapun juga, perdebatan antara Habermas dan Luhmann tentang genealogi dan ontologi fenomena masyarakat turut memperkaya dan memperdalam cakrawala pemikiran tentang aspek dan segi-segi perkembangan peradaban manusia modern.{/jb_brownbox}

Pendahuluan

“Masyarakat!” Kata itu sangat sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam berbagai diskursus politik, sosial, dan ekonomi. Para pakar, akademisi, pengamat, aktivis, jurnalis, bahkan orang awam begitu fasih dan familier menggunakan istilah itu untuk berbagai keperluan. Term “masyarakat” digunakan begitu saja seolah telah benar-benar dimengerti lingkup dan kedalaman maknanya. Diandaikan begitu saja pemahaman dan sudut pandang yang sama tentang istilahtersebut. Hampir selalu terjadi pengertian masyarakat disamaratakan denganpengertian penduduk, warga negara, rakyat, atau komunitas.

Namun, apakah sesungguhnya masyarakat, fenomena apa dia, bagaimana kompleksitasnya bisa dijelaskan? Di antara kebanalan dan kerancuan penggunaan term masyarakat, debat antara Niklas Luhmann dan Jurgen Habermas memberikan semacam pencerahan. Debat itu mendorong kita untuk secara selidik dan kritis menyelami fenomena dan fakta masyarakat, untuk secara hati-hati menggunakan term ini di tengah rutinitas dan kelatahan yang terjadi dalam berbagai perbincangan publik.

Sebelum masuk ke perdebatan pemikiran, kita perlu mengetahui lebih dahulu siapakah kedua tokoh yang dikupas saat ini? Jurgen Habermas dikenal sebagai pembaru teori kritis Mazhab Frankfurt. Dia sesungguhnya tengah melanjutkan proyek Max Horkheimer , tokoh pendiri “Teori Kritis Masyarakat”: pengembangan teori masyarakat yang kritis sekaligus berdimensi praksis perubahan sosial. Namun, proyek lanjutan Habermas bertolak dari identifikasi atas kelemahan-kelemahan para pendahulunya dan teori-teori yang berkembang sebelumnya: hermeneutika, teori sistem fungsionalisme, strukturalisme, dan postrukturalisme. Dari sini Habermas secara perlahan membangun kerangka analisis lebih kuat atas kondisi faktual masyarakat modern. Dia merekonstruksi materialisme historis yang menjadi titik-pijak teori kritis guna menemukan dasar epistemologis yang lebih kuat bagi kritik sosial atas positivisme dan gejala-gejala modernitas. Habermas berusaha merumuskan ulang rasionalitas, demokrasi, dan hubungan di antara keduanya untuk menyediakan kritik efektif atas kapitalisme. Dia mewakili tradisi pemikiran mutakhir paling representatif yang berakar pada Kant, Hegel, Marx, dan, tentunya, Mazhab Frankfurt.

Sedangkan Niklas Luhmann adalah seorang teoretikus sosial, sosiolog Jerman, yang banyak mendasarkan kerangka berpikir tentang masyarakat pada teori fisika modern, teori informasi, teori sistem klasik, neurofisiologi, dan biologi. Luhmann berusaha menggunakan teori-teori dalam gugus biology of cognition dan teori sibernetik untuk menembus kebuntuan analisis teori-teori postmodernisme tentang masyarakat. Sintesis antara teori sosial dengan refleksi fisika modern di tangan Luhmann menghasilkan formula baru pendekatan teori masyarakat yang menyegarkan teori sistem parsonian. Awal dekade 1970-an, Luhmann dikenal sebagai kritikus yang sangat tajam terhadap teori sosial Habermas. Dia berulang kali menegaskan bahwa seluruh analisis Habermas tentang etika diskursus untuk mencapai konsensus tidak relevan dan tidak memadai dalam menjelaskan perkembangan kompleks masyarakat modern.

Teori Sistem Luhmann

Fokus dari seluruh analisis Luhmann adalah bagaimana menjelaskan dan membedah problem kompleksitas sosial. Teori sistem Luhmann, sebagaimana teori sistem Ludwig von Bertalanffy, bisa dilihat sebagai proyek untuk mentransformasikan masyarakat sebagai kompleksitas yang tidak tertata (unorganized complexity) menjadi kompleksitas yang tertata (organized complexity). Bagaimana kompleksitas sosial harus dijelaskan tatkala kompleksitas itu ternyata tidak mengarah pada situasi chaostic, tetapi justru mengarah pada tatanan atau keteraturan? Dalam konteks inilah, inti pikiran Luhmann tentang teori sistem-sistem yang mereferensi diri (theory of self-referential systems) mengemuka. Menurut Luhmann, kompleksitas itu hanya bisa dipahami atau hanya bermakna jika kita melakukan klasifikasi, tematisasi, dan distingsi. Masyarakat harus dipilah-pilah, didiferensiasi menjadi bagian tersendiri yang bermakna sebelum kemudian dirumuskan bagaimana relasi-relasi antar-bagian itu. Dalam teori sistem yang mereferensi diri, setiap bagian dari masyarakat akan melewati tahap-tahap deskripsi diri (self description), observasi diri (self observation) dan simplifikasi-diri (self simplifications).[i]

Muara dari proses itu adalah terbentuknya bagian-bagian yang mandiri dan cukup diri yang kemudian disebut sebagai sistem. Reduksi dan diferensiasi kompleksitas melahirkan sistem-sistem dan di luar sistem itu yang ada adalah lingkungan. Proses distingsi atau diferensiasi ini sangat penting bagi Luhmann. Tanpa adanya distingsi dan diferensiasi, tak ada tatanan sosial. Yang ada hanyalah kekacauan.[ii] Jadi, untuk menjelaskan fenomena bermasyarakat, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mereduksi kompleksitas sosial, lantas mengorganisasikannya kembali. Ini pula yang membedakan teori sistem Luhmann dan Parson. Jika Parson cenderung melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan atau totalitas dari bagian-bagian, teori sistem Luhman melihat masyarakat terdiri dari sistem-sistem yang terdiferensiasi, bertingkat-tingkat, dan cukup diri (autopoiesis).

Apa yang dimaksud dengan autopoiesis? Luhmann menggunakan contoh sel yang berkembang berdasarkan prinsip organisasi diri (self-organization).[iii] Sel sebagai suatu sistem mandiri membatasi dirinya dari lingkungan melalui membran sel dan membentuk kesatuannya sendiri berbeda dengan sel yang lain, yang merupakan lingkungannya. Sel itu menghidupi dan mereproduksi diri sendiri. Semua yang dibutuhkan untuk mempertahankan dan membentuk dirinya dihasilkan secara swadaya. Pada sisi lain, meski bersikap tertutup sebagai sebuah sistem, sel sesungguhnya juga bersifat terbuka. Setiap sel selalu berada dalam kontak dengan lingkungannya untuk mempertukarkan energi dan materi. Jadi, persinggungan dengan lingkungan terutama dimungkinkan melalui pengorganisasian diri yang bersifat autopoiesis. Terjadi kontak dan pertukaran materi dan energi antara sel dengan sel lain yang merupakan lingkungannya. Dengan kata lain, sel itu tertutup sekaligus terbuka.

Bagaimana sel bekerja dan mereproduksi diri secara mandiri tersebut bisa digunakan untuk menggambarkan sifat sistem-sistem yang autopoesis dalam pengertian Luhmann? Masyarakat dapat dilihat sebagai sistem-sistem yang autopoiesis saling membentuk lingkungan satu sama lain. Luhmann kemudian menggunakan konsep yang semula diperkenalkan Talcott Parson, yakni konsep kontingensi ganda. Jika hanya prinsip autopoiesis saja yang terjadi, maka setiap sistem akan berorientasi ke dalam. Jika setiap sistem bersifat partikular dan murni self-referential, mengapa tetap terjadi tatatan? Mengapa tidak terjadi benturan-benturan mengarah pada kaos? Luhmann menjelaskan bahwa setiap sistem menjadikan sistem yang lain sebagai lingkungannya, namun pada saat yang sama sistem itu menyadari dirinya juga merupakan lingkungan bagi yang lain. Setiap perkembangan sistem, betapa pun autopoiesisnya, tidak pernah lepas dari lingkungannya, sistem-sistem yang lain. Karena itu, setiap determinasi terhadap “diri” juga berarti determinasi terhadap “yang lain”.[iv] Dalam konteks inilah tercipta sistem simbolik yang dimiliki dan dibagi bersama, bersifat normatif dan memungkinkan para pihak berkomunikasi dan membentuk tatatan yang kemudian disebut sebagai masyarakat. Sistem simbolik ini tampaknya diyakini sebagai penyangga sistem kemasyarakatan, sebagai penjamin bahwa partikularitas dan sifat autopoesis sistem-sistem tidak berakhir dengan kaos, tetapi dengan kondisi keseimbangan, equilibrium, antarsub-sistem masyarakat. Kebebasan untuk memilih yang berhadapan dengan kebebasan memilih yang lain tidak akan saling mengalahkan, namun justru akan mencapai titik keseimbangan. Itulah yang disebut sebagai kontingensi ganda dalam teori sistem.

Persoalannya kemudian, apakah semua aspek kemasyarakatan dapat ditematisasi dan didiferensiasi ke dalam sistem-sistem? Apakah kompleksitas sosial seluruhnya bisa direduksi ke dalam bagian-bagian yang spesifik dan otonom? Reduksi kompleksitas bisa bermakna positif sebagai proses sistematisasi dan diferensiasi, sehingga masyarakat bisa dipahami dengan lebih baik. Namun, reduksi kompleksitas juga bisa berarti penyederhanaan dan simplifikasi masalah. Sejauhmana kompleksitas bisa direduksi ke dalam sistem? Jangan-jangan reduksi kompleksitas juga menghasilkan residu yang secara ontologis sama bermaknanya dengan sistem, namun terlupakan dan dianggap tak bermakna dalam teori sistem?

Masyarakat bukan hanya terdiri dari pranata dan infrastruktur daya hidup dalam rupa sistem birokrasi-pemerintahan dan sistem ekonomi. Berbicara tentang masyarakat kita juga berbicara tentang kompleksitas budaya, moralitas, religiositas, seni, dan individualisme. Masyarakat terdiri atas dunia profan dan dunia sacred sekaligus. Bagaimana kompleksitas pada aras moralitas, religiositas, dan kebudayaan masyarakat direduksi dan disistematisasi? Apakah memadahi dunia sacred dan individualitas diregulasi berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi dan birokrasi?

Teori sistem Luhmann sesungguhnya lahir untuk merespons paradigma sistem-lingkungan yang dikembangkan Habermas. Namun, dalam perkembangannya Habermas juga banyak melakukan analisis dan kritik balik terhadap teori sistem. Kelemahan utama teori sistem dalam tatapan Habermas adalah menempatkan tiga unsur dunia-kehidupan: budaya, masyarakat, dan personalitas dalam kerangka sistem tindakan; ketiganya saling membentuk lingkungan satu sama lain. Parson, misalnya, tanpa ragu mengategorisasi dunia-kehidupan ke dalam konsep-konsep sistem teoretis dan menempatkan komponen struktural dunia-kehidupan sekadar subsistem dari sistem tindakan umum (general system of action). Teori sistem, baik Parson maupun Luhmann, juga hanya mempertimbangkan satu dari 3 komponen dunia-kehidupan, yaitu masyarakat, sementara budaya dan personalitas hanya dilihat sebagai komponen pelengkap yang membentuk lingkungan bagi masyarakat. Dunia-kehidupan dilihat sebagai sub-sistem kemasyarakatan yang terdiferensiasi dan terspesialisasi untuk memelihara pola-pola struktural (pattern maintenance) masyarakat.[v]

Habermas mengkritik teori sistem telah menafikan berbagai tekanan, tegangan, dan dinamika internal dalam suatu masyarakat, atau dalam suatu struktur dunia-kehidupan, sehingga proses maintenance system tidak berjalan sesederhana yang dibayangkan. Dinamika dalam dunia-kehidupan tidak bisa ditangkap oleh teori sistem dan, menurut Habermas, hanya bisa diidentifikasi melalui pendekatan hermeneutika yang concern terhadap pengetahuan pra-teoretis masyarakat.

Dalam konteks teori sistem, diferensiasi struktural dunia-kehidupan kemudian meningkat intensitasnya menjadi rasionalisasi. Paralel dengan proses diferensiasi sistem, dunia-kehidupan sedemikian rupa ditematisasiberdasarkan kategori yang sebelumnya hanya relevan untuk integrasi sistem. Tematisasi ini kemudian dilanjutkan dengan sistematisasi dan pelembagaan. Di sini, Habermas melihat paralelisme diferensiasi struktural dunia-kehidupan dengan ironi proses pencerahan historis: rasionalisasi dunia kehidupan memfasilitasi peningkatan kompleksitas sistem, mendorong pengaruh imperatif sistem yang akhirnya mereduksi dan menginstrumentalisasi dunia-kehidupan.[vi] Dunia-kehidupan yang dalam perspektif Habermas koeksisten dengan sistem sosial terdiferensiasi, dalam teori sistem secara terus-menerus terpecah-pecah menjadi sejumlah sub-sistem. Pada ujungnya, eksistensi dunia kehidupan tidak ada lagi. Yang ada adalah sistem-sistem dan lingkungannya. Jadi, tak relevan lagi berbicara tentang integrasi sosial, karena yang ada adalah integrasi sistem.

Paradigma “Sistem-Dunia Kehidupan” Habermas

Pemikiran Habermas tentang masyarakat dapat ditemukan dalam buku The Theory of Communicative Action. Buku yang merupakan rangkuman hasil penelitian Habermas selama 20 tahun itu juga mencerminkan hasil dialognya dengan dua pemikiran yang menjadi dasar dari perkembangan pemikirannya: Teori modernisasi Max Weber dan analisis modernitas Horkheimer dan Adorno. Dalam buku itu, Habermas membangun basis argumentasi dan kerangka konseptual menuju pada analisisnya yang sangat terkenal: analisis tentang patologi modernitas.

Kunci pemikiran Habermas terletak pada dikotomi antara dunia-kehidupan dan sistem. Habermas memandang evolusi sosial sebagai proses diferensiasi yang menghasilkan dua entitas: sistem (system) dan dunia-kehidupan(lebenswelt). Yang dimaksud dunia kehidupan adalah “cakrawala” kepercayaan dan latar belakang intersubjektif yang di dalamnya setiap proses dan logika komunikasi selalu sudah tertanam. Setiap orang berkomunikasi dan bertindak dalam sebuah “dunia kehidupan”, sebuah alam simbolik-bermakna yang dimiliki bersama oleh suatu komunitas. Dunia kehidupan terdiri atas pandangan dunia, keyakinan-keyakinan moral dan nilai-nilai bersama. Tindakan komunikasi mengacu pada dunia kehidupanitu, dan rasionalitas dunia kehidupan adalah rasionalitas komunikatifSetiap orang tumbuh dan mencapai kedewasaan emosional-intelektual dalam integrasinya dengan dunia kehidupan masyarakatnya. Dalam konteks ini, Habermas bicara tentang integrasi sosial.

Namun, masyarakat bukan sekadar komunitas komunikatif. Masyarakat juga harus dilihat sebagai sistem atau tatanan yang terdiri dari sistem-sistem. Yang dimaksud dengan sistem adalah segala macam institusi dan peraturan yang menata kehidupan masyarakat. Tujuan “sistemisasi” adalah untuk meringankan beban dunia kehidupan. Kompleksitas problem sosial kemasyarakatan menuntut proses sistemisasi, tematisasi, dan regulasi. Selanjutnya, aspek-aspek kemasyarakatan yang telah ditata dalam sebuah sistem tidak perlu didiskursuskan terus-menerus, tinggal dijalankan secara efektif berdasarkan regulasi yang ada. Misalnya, bila setiap hari, jam, dan materi kuliah harus didialogkan bersama oleh mahasiswa dan dosen, tentu akan sangat merepotkan. Akan tetapi, dengan ditetapkannya sebuah sistem yang mengatur jadwal dan materi kuliah, semua pihak—mahasiswa, dosen, staf administrasi—tentu akan lebih mudah mengikutinya.[vii] Contoh ini juga memperlihatkan bagaimana rasionalitas sistem berhubungan dengan rasionalitas sasaran: jadwal memang ditetapkan sedemikian rupa untuk mencapai sasaran tertentu, yakni membuat acara perkuliahan menjadi semakin lancar. Rasionalitas sistem juga berupa rasionalitas instrumental: untuk mencapai tujuan efisiensi perkuliahan.

Dalam praktik, sistem dan dunia kehidupan itu merujuk pada entitas yang mana? Secara garis besar dapat dijelaskan bahwa sistem dalam paradigma “sistem-dunia kehidupan” Habermas merujuk pada sistem ekonomi dan sistem birokrasi-pemerintahan. Sementara konsep dunia-kehidupan mencakup realitas subjektif, realitas objektif, dan realitas sosial, yang dalam praktik bisa disederhanakan menjadi wilayah kebudayaan, masyarakat, dan individualitas. Terjadi diferensiasi sedemikian rupa, sehingga kompleksitas sistem di satu sisi dan rasionalitas dunia-kehidupan di sisi lain terus berkembang. Namun, yang terjadi di sini bukan sekadar qua sistem dan qua dunia-kehidupan yang terdiferensiasi satu sama lain. Sistem dan dunia-kehidupan berkembang bersama-sama dan saling memengaruhi.[viii]

“Sistemisasi” saja tidak cukup untuk menata masyarakat. Pertama, sistemisasi harus dilakukan dengan cara yang legitimate. Sebuah sistem tidak dapat berjalan dengan cara paksa dan koersif semata; ia juga harus dijalankan karena benar-benar dibutuhkan masyarakat. Karena itu, penerimaan sukarela masyarakat atau dengan kata lain legitimasi masyarakat menjadi syarat ontologis bagi keberadaan sistem. Sistem ada karena memang dikehendaki masyarakat, bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan. Di sini kita menemukan persambungan antara sistem dan dunia kehidupan. Agar sebuah sistem bisa berjalan, rasionalitasnya harus diukur berdasarkan norma dunia-kehidupan, yakni norma-norma komunikasi. Antara diferensiasi dan kompleksifikasi sistem di satu sisi dan rasionalisasi dunia kehidupan di sisi lain saling berhubungan dan mengandaikan.

Sistem, yakni institusi-institusi formal dalam masyarakat, harus semakin tertata dan kompleks agar tantangan yang dihadapi masyarakat dapat ditangani semakin efisien. Agar masyarakat menerima sistem yang semakin kompleks itu, dunia kehidupan juga harus semakin rasional.Dunia-kehidupan yang seratus persen ditata menurut nilai-nilai tradisi, misalnya, jelas tidak memadai untuk merespons perkembangan kemajuan peradaban masyarakat. Rasionalisasi dunia kehidupan berarti bahwa semakin banyak bidang tidak lagi dihayati dan ditata menurut adat, tradisi atau otoritas tradisional, melainkan menurut kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan melalui diskursus bersama. Habermas mencatat bahwa setiap perubahan sosial membawa rasionalisasi dunia-kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Itu berarti acuan normatif menjadi semakin universal.

Orang bersepakat bahwa tindakan korupsi, misalnya, harus diberantas bukan hanya karena korupsi dilarang oleh agama, melainkan juga dan terlebih lagi karena secara rasional korupsi merugikan kepentingan orang banyak. Orang bersepakat bahwa menebang hutan secara sembarangan harus diberantas bukan karena hutan adalah tempat sakral yang harus dijaga dan dirawat, tetapi karena penebangan hutan secara sembarangan merusak ekosistem dan menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor. Di sini kita mengganti rasionalitas tradisional dengan argumentasi-argumentasi universal yang dapat diterima orang dari semua latar belakang ideologis.

Mengutip Habermas, kompleksitas “sistem” selalu disertai peningkatan rasionalisasi dunia-kehidupan. Sebaliknya, peningkatan rasionalitas dunia kehidupanakan menghasilkan bertambahnya kompleksitas dan diferensiasi sistem. Jadi, integrasi sosial di dunia-kehidupan dan integrasi sistemsaling mengandaikan. Begitu pula rasionalitas sasaran yang hendak dicapai dengan meningkatkan integrasi sistem tidak akan mempan kecuali dianggap legitim oleh masyarakat, dan itu berarti harus mendapatkan pengukuhan berdasarkan rasionalitas komunikatif. Kelihatan juga bahwa rasionalitas sasaranmengandaikan rasionalitas komunikatif, karena tanpa saling pengertian, sistem tidak akan dimengerti dan karenanya tidak akan efektif.[ix]

Patologi Modernitas

Kedua, seperti telah disinggung, tidak semua hal bisa diatur dan diregulasi berdasarkan imperatif sistem. Pemilahan Habermas terhadap dunia-kehidupan dan sistem juga untuk menegaskan bahwa ada bidang yang tidak bisa ditematisasi, disimplifikasi dan direduksi ke dalam sistem sebagaimana bidang ekonomi dan birokrasi pemerintahan. Dalam konteks inilah Habermas menyediakan desain analitis untuk mengidentifikasi apa yang disebut sebagai patologi modernitas. Unsur utama dalam modernisasi yang membedakannya dari transformasi sosial lain adalah terbentuknya dua sub-sistemyang dalam perjalanannya semakin otonom, determinan, dan bahkan mengolonialisasi dunia-kehidupan: sub-sistem rasionalitas ekonomi pasar (uang) dan sub-sistem kekuasaan administratif (negara birokratis). Dua sub-sistem ini bukan hanya berkembang di dalam dirinya, namun juga secara ekspansif dan eksesif mengintervensi dunia-kehidupan yang perlahan-lahan mengganti rasionalitas komunikatif dalam berbagai aras kehidupan dengan rasionalitas sasaran.

Habermas melihat bentuk kesadaran modern terlalu transparan untuk menyembunyikan tindakan restriksi dan penggusuran rasionalitas komunikasi, baik yang bersifat laten maupun manifes. Integrasi sistem semakin determinan, sedangkan integrasi sosial semakin ditinggalkan. Mekanisme sistemik terus menekan integrasi sosial, termasuk di area tempat koordinasi tindakan berdasarkan konsensus berlaku secara formal atau di tempat berlangsungnya reproduksi simbolik dunia-kehidupan.[x]

Jika pada masyarakat dengan tingkat diferensiasi rendah, integrasi sistem berkelindan dengan integrasi sosial, pada masyarakat modern integrasi sistem terkonsolidasi dan terobjektifikasi menjadi struktur yang bebas norma: sesuatu yang justru disyaratkan dalam integrasi sosial. Perilaku anggota masyarakat secara formal terorganisasi berdasarkan rasionalitas tindakanyang dikendalikan melalui mekanisme ekonomi dan kekuasaan sebagai bentuk blok realitas-quasi-natural. Individu terkondisikan untuk menghindari orientasi saling-memahami, mengadopsi perilaku strategis, dan mengobjektivikasi konteks normatif ke sesuatu yang seakan-akan objektif. Dalam masyarakat modern, rasionalitas ekonomi dan birokrasi muncul dalam relasi-relasi sosial. Ketika relasi sosial ini terdeterminasi oleh mekanisme uang dan kekuasaan, perilaku bersandarkan pada moral dan keanggotaan sosial berdasarkan identitas dianggap tidak perlu atau tidak mungkin.

Habermas menjelaskan, setiap perkembangan diferensiasi sistem membutuhkan perubahan dasar institusional, yakni perubahan hukum dan moralitas. Demikian yang terjadi pada integrasi fungsional masyarakat-modern-diarahkan-media. Integrasi sistem ini sepenuhnya terpisah dari konteks normatif masyarakat dan membentuk subsistem independen yang tertutup dari kemungkinan asimilasi dengan unsur-unsur dunia-kehidupan. Subsistem independen ini kemudian diperlakukan layaknya “alam kedua” (second nature) masyarakat yang bebas nilai dan dibayangkan sebagai sesuatu yang nyata-objektif dalam kehidupan sosial. Di sini, pemisahan antara sistem dan dunia-kehidupan dalam masyarakat modern berubah menjadi sebentuk objektifikasi: sistem keluar dari horizon dunia-kehidupan, melepaskan diri dari segala bentuk pengetahuan intuitif dalam praktik komunikasi sehari-hari, dan oleh karenanya hanya relevan bagi pengetahuan konter-intiutif dalam ilmu sosial warisan abad pertengahan.[xi]

Tak pelak, semakin kompleks sistem sosial, semakin sempit cakupan dunia-kehidupan. Dalam masyarakat yang terdiferensiasi, dunia-kehidupan mengerucut menjadi subsistem-subsistem. Perubahan dan dinamika pada dunia-kehidupan seakan-akan dependen terhadap mekanisme sistem. Menurut Habermas, proses rembesan institusi pengendali (uang dan kekuasaan) ke dalam dunia-kehidupan dapat dilihat sebagai saluran untuk (1) pengaruh dunia-kehidupan terhadap domain tindakan formal dan (2) pengaruh sistem terhadap konteks tindakan komunikatif. Dengan kata lain, institusi pengendali itu berfungsi sebagai kerangka institusional yang mengarahkan system maintenance pada ketentuan-ketentuan normatif dunia-kehidupan, atau sebaliknya berfungsi mensubordinasikan dunia-kehidupan ke dalam sistem reproduksi material yang berujung pada proses pendudukan dunia-kehidupan.[xii]

Pada masyarakat di mana negara dan institusi legal menuntut ketaatan terhadap hukum, perilaku masyarakat dideterminasi norma guna menciptakan tatanan bersama. Warga negara harus dapat membedakan perilaku ini—dalam tindakan sehari-hari—dari perilaku strategis berdasarkan hukum-hukum alam dan membedakan perilaku ekspresif berhadapan dengan alam batiniah mereka.[xiii] Masyararakat sedemikian rupa terdisiplinkan oleh perangkat administratif dan koersif pemerintahan, sebagaimana masyarakat begitu rupa terpola untuk semata-mata mengejar capaian hidup dalam domain ekonomi. Dalam perkembangan selanjutnya, manusia modern semakin mengarahkan tindakannya pada pertimbangan ekonomis dan penyesuaian pragmatis terhadap peraturan-peraturan birokrasi negara. Itulah yang disebut Lukacs sebagai reifikasi.” Hubungan antara manusia menjadi komoditas yang bisa dijual-belikan. Apa pun yang ditata oleh negara diikuti begitu saja. Misalnya, abortus diizinkan dalam undang-undang. Banyak orang yang sebelumnya menganggap abortus sebagai dosa akan menganggapnya bukan apa-apa karena negara sudah mengizinkan. Inilah yang disebut patologi modernitas.

Ciri lain patologi itu adalah carapandang terhadap alam. Moralitas dan seni tidak lagi menyatu, melainkan menjadi wilayah yang terpisah sama sekali satu dengan yang lain masing-masing dengan rasionalitasnya sendiri. Habermas bicara tentang “rasionalitas modernitas berpancaran tiga”.[xiv] Persoalannya adalah, bagaimana individu mencapai pengetahuan yang benar, baik, dan adil, serta bagaimana mengekspresikan diri dalam dimensi estetis secara autentik ditangani secara terpisah sama sekali. Sikap terhadap dunia ilmu pengetahuan, sikap terhadap manusia dalam moralitas, serta ekspresi autentik dalam seni, semakin dideterminasi dan didikte oleh para ahli dalam masing-masing bidang (para pakar, ahli etika, serta ahli seni). Masyarakat biasa sebaliknya merasa diri awam dan semakin tidak kompeten untuk bicara. Tiga wilayah dasar yang semula ditangani melalui rasionalitas komunikatif semua orang, sekarang diserahkan sepenuhnya kepada dekrit para ahli tanpa peduli diskursus para ahli itu tidak dapat dipahami orang awam. Ironisnya, gejala demikian terus mengguat meski belakangan semakin disadari betapa para ilmuwan, ahli etika dan kritik seni itu juga semakin rapuh terhadap serangan “patologi” subsistem modernitas: komersialisasi bebas norma dan pelacuran oportunitas politik.

Tak pelak, dalam perkembangan mutakhir masyarakat modern, domain sacred mengalami kemunduran, minimal kehilangan signifikansi atau kemampuan dalam mempertahankan struktur. Pada masyarakat yang terdiferensiasi sempurna oleh imperatif sistem, seni menanggalkan sifat sakralnya, diskursus moralitas dan hukum telah memisahkan diri dari domain religius agama dan metafisika. Dengan sekularisasi budaya borjuis, domain kultural terpisah secara tegas satu dengan yang lain, dan berkembang berdasarkan logika internal klaim-klaim validitas yang berbeda. Budaya merosot menjadi sekadar perangkat formal penunjang fungsi ideologis tertentu. Sejauh tendensi ini secara nyata ditemukan dalam masyarakat modern, kekuatan struktural dari imperatif sistem dalam mengintervensi bentuk-bentuk integrasi sosial tak dapat lagi disembunyikan di belakang rasionalitas diferensiasi antara ranah profan dan ranah sacred.[xv]

Dengan demikian, Habermas dapat mengoreksi analisis patologi modernitas yang diberikan Max Weber dan Horkheimer/Adorno. Bukan rasionalitas sasaran sendiri dan juga bukan perluasan dan kompleksifikasi integrasi sistem yang menghasilkan reifikasi dan irasionalitas dunia-kehidupan, melainkan kolonialisasi dunia kehidupan oleh imperatif-imperatif sistem. Manusia perlu mensistemkan kehidupannya dan karena itu rasionalitas sasaran tetap diperlukan. Membuat pelbagai proses kehidupan menjadi lebih efisien bukan sesuatu yang patologis. Namun, masalah muncul jika kita menyerahkan penilaian, terutama dalam hal dimensi moral dan estetika, sepenuhnya kepada para pakar yang belum tentu merepresentasikan keberadaan kita. Kita pun membiarkan semakin banyak wilayah kehidupan dikomersialisasikan, sehingga mutu kemanusiaan kehidupan semakin tergerogoti. Otonomi individu semakin berkurang dan apa yang dilakukan individu semakin ditentukan oleh pertimbangan ekonomis dan pragmatisme birokratis, dan karena itu semakin kehilangan makna sebagaimana sudah dianalisis oleh Weber.

Kesimpulan

Habermas tidak menolak pendasaran analisis Weber dan Mazhab Franfurt terhadap modernitas. Yang dia sangkal adalah kesimpulan bahwa reifikasi dan birokratisasi merupakan jalan buntu. Habermas yakin rasionalitas komunikasi tertanam dalam segenap komunikasi verbal, dan setiap individu selalu mempunyai referensi komunitas atau individual tentang apa itu komunikasi yang berhasil dan apa relasi-relasi antar-manusia yang tidak dikuasai oleh uang, birokrasi, dan para ahli. Peningkatan rasionalitas sistem selalu akan disertai peningkatan rasionalitas dunia-kehidupan, sehingga perluasan sistem juga akan disertai tuntutan legitimasi yang semakin tinggi. Kalau sebelumnya tindakan penguasa tradisional dengan sendirinya dianggap benar, misalnya, karena penguasa dianggap “sudah menerima wahyu”, maka modernitas yang melahirkan negara Leviathan juga melahirkan prinsip kedaulatan rakyat dan hak asasi manusia yang merupakan sarana wajib untuk memagari kesewenangan Sang Leviathan. Begitu pula komersialisasi semakin banyak wilayah kehidupan juga dibarengi dengan lahirnya kesadaran bahwa masyarakat harus kembali menancapkan keadilan dan merealisasikan prinsip solidaritas antar-umat manusia. Semakin meluas ekspansi imperatif pasar global dan institusionalisasi birokrasi, semakin berkembang pula kemampuan masyarakat untuk melawannya. Dua paham yang merupakan sumbangan penting Habermas pada filsafat moral-politis: etika diskursus dan demokrasi deliberatif menunjukkan bagaimana Habermas melihat perlawanan itu.

Menarik untuk disimak bahwa di antara Habermas dan Luhmann sesungguhnya bukan hanya terdapat jurang yang menganga, tetapi juga persinggungan pemikiran. Habermas pada akhirnya menyimpulkan bahwa integrasi sosial di dunia kehidupan dan integrasi sistem sesungguhnya saling mengandaikan. Kompleksitas sistem selalu disertai dengan peningkatan rasionalisasi dunia kehidupan. Sebaliknya, peningkatan rasionalitas dunia kehidupan akan mendorong kompleksitas dan diferensiasi sistem. Inilah inti pemikiran Habermas yang menunjukkan bahwa dia bukan hanya concern terhadap bagaimana melindungi dunia kehidupan dari kolonisasi sistem saja, tetapi juga bagaimana agar dinamika sistem tidak benar-benar terpisah dari dinamika dunia kehidupan. Bagaimana agar integrasi sistem bisa berdampingan dengan integrasi sosial. Habermas tak menyangkal bahwa reduksi kompleksitas, sistemisasi, dan regularisasi kehidupan sosial diperlukan untuk mengurangi beban dunia-kehidupan dan mengefektifkan kehidupan bermasyarakat. Namun, jika Luhmann membayangkan proses diferensiasi dan sistemitasi tanpa batas di mana semua entitas kehidupan, termasuk individualitas, kesadaran, dan tindakan komunikasi dilihat sebagai sistem yang autopoiesis, Habermas memberlakukan batas-batas proses diferensiasi dan tematisasi kompleksitas sosial. Imperatif sistem hanya perlu dan relevan bagi kehidupan ekonomi dan politik pemerintahan, dan tidak boleh mendeterminasi ranah masyarakat, budaya, dan indvidualitas.

Penjelasan dan analisis Luhmann tentang fenomena-fenomena masyarakat terasa lebih jelas, “jujur”, dan realistis. Teori sistem Luhmann terkesan lebih apa adanya dan berpijak pada kenyataan dalam menjelaskan proses stratifikasi dan diferensiasi yang terjadi dalam masyarakat modern. Luhmann berbicara tentang apa yang senyatanya terjadi. Pada sisi lain, Habermas lebih cenderung untuk menganalisis mengapa bisa terjadi dan bagaimana solusinya. Dengan kata lain, paradigma “sistem-dunia kehidupan” Habermas lebih beroperasi pada tataran ideal daripada tataran real. Pemikiran Habermas tentang tindakan komunikasi, etika diskursus, dan demokrasi deliberatif lebih menunjukkan orientasi ke depan, berdimensi praksis sosial, dalam arti berusaha memberikan inspirasi apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kondisi patologis modernitas. ***


[i] Niklas Luhmann, Social Systemspenerjemah John Bednarz Junior dan Dirk Baecker (Stanford, CA: Stanford University Press, 1995), hal. 9. Lihat juga, Ludwig von Bertalanffy, General Systems Theory (New York: Penguin Books, 1968), hal. 36.

[ii] Eva M Knodt, “Foreword” dalam Luhmann, Social..., hal. Xviii.

[iii] Luhmann, Social..., hal. 93.

[iv] Luhmann, Social..., hal. 109-110.

[v] Jurgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Volume 2 (Boston: Beacon Press, 1989), hal. 153-197.

[vi] Habermas, The Theory of Communicative..., hal. 155.

[vii] Franz Magnis Suseno, “75 Tahun Jurgen Habermas”, dalamBasis, Nomor 11-12, Tahun ke-53, November-Desember 2004, hal. 9.

[viii] Habermas, The Theory of Communicative..., hal.154.

[ix] Suseno, “75 Tahun…”, hal. 9.

[x] Habermas, The Theory...., hal. 196.

[xi] Habermas, The Theory...., hal. 173.

[xii] Habermas, The Theory...., hal.185.

[xiii] Habermas, The Theory...., hal. 194.

[xiv] Suseno, “75 Tahun…”, hal. 10.

[xv] Habermas, The Theory...., hal. 195.

 

Write a comment...
awesome comments!
Agus Sudibyo

Redaktur Pelaksana Jurnal Prisma, Direktur Eksekutif Matriks Indonesia, Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers (2010-2013). Alumnus Ilmu Komunikasi Fisipol UGM (1998), Magister Filsafat STF Driyarkara (2011). Kandidat Doktor di Program S-3 STF Driyarkara. Menerima Press Freedom Award dari AJI/DRSP-USAID (2007). Menulis buku : Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan Dalam Pemikiran Hannah Arendt (2010); Kebebasan Semu, Penjajahan Baru di Jagad Media (2010); Ekonomi Politik Dunia Penyiaran (2004); Politik Media dan Pertarungan Wacana (2000); Citra Bung Karno: Analisis Berita Pers Orde Baru (1999).