header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Bangsa Besar Emoh Buku

HINGGA hari ini, Indonesia adalah bangsa besar tanpa buku. Perbukuan di negeri ini memang masih menggeliat sebagai industri. Namun, kontinuitas produksi buku sekadar bertahan untuk memenuhi kepatutan serba minimalis. Sebab, eksistensi manusia Indonesia pada umumnya, belum dibentuk oleh ketekunan membaca buku. Pemahaman terhadap seluk-beluk kehidupan dan kompleksitas sosial-politik lebih didasarkan pada desas-desus, bukan hasil pembacaan secara kritis terhadap buku. Persoalan itulah sesungguhnya yang melatarbelakangi timbulnya pro-kontra terhadap rencana pembangunan perpustakaan umum terbesar se-Asia Tenggara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. 

  • Written by

Tantangan Pendidikan Kemaritiman

HAMPIR tak ada silang pendapat yang menonjol berkenaan dengan format pendidikan kemaritiman. Sampai kapan pun, edukasi kemaritiman bersifat vokasional (kejuruan).  Pemahaman terhadap segala aspek kemaritiman menjadi relevan manakala diupayakan melalui pendidikan kejuruan dengan penekanan sangat kuat terhadap penguasaan aspek-aspek praktis kemaritiman. Arti penting teori, pendekatan, dan aksioma, berada dalam kerangka pendukung demi memperkuat penguasaan aspek aspek-aspek praktis kemaritiman. Dalam konteks tata kelola berbagai sumber daya kelautan, proses penyiapan sumber daya manusia bermutu tinggi akan sangat efektif melalui pendididikan vokasional. 

  • Written by

Memahami Keunggulan Perusahaan Transportasi Berbasis Teknologi Informasi

BENTROKAN yang terjadi pada hari Selasa, 22 Maret 2016, antara gabungan sopir taksi yang didominasi grup Blue Bird dan Express dengan para pengendara Gojek dapat dikatakan merupakan klimaks dari ketegangan yang telah berlangsung beberapa waktu lamanya antara para penyedia jasa transportasi konvensional dengan penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi. Demo para sopir taksi yang sebenarnya ditujukan pada pesaing mereka sesama perusahaan taksi, tetapi berbasis aplikasi—Uber dan GrabCar—berujung ricuh dengan pelampiasan emosi kepada para pengendara Gojek.

Batas Beku Amerika Serikat–Kuba

SEJAK pengujung dasawarsa 1950-an, hubungan diplomatik Amerika Serikat (AS) dan Republik Kuba membeku. Namun, kini, hubungan dua negara bertetangga itu mulai mencair, meski tak sepenuhnya pulih. Minggu hingga Selasa, 20–22 Maret 2016, Presiden Barack Obama berkunjung ke Havana, Ibu Kota Kuba. Presiden Obama melakukan sejumlah pembicaraan dengan para pemimpin politik Kuba dengan sambutan resmi dari Presiden Kuba Raul Castro, bertemu dengan eksponen penentang Fidel Castro dan Raul Castro, berpidato politik di televisi, melakukan sejumlah aktivitas kemasyarakatan, tur keliling Kota Tua Havana, serta menonton pertandingan baseball–yang menghadirkan klub terkenal AS Tampa Bay Rays melawan tim baseball nasional Kuba. Selama 88 tahun terakhir, Obama adalah presiden pertama AS yang menginjakkan kaki di Kuba. 

  • Written by

Negara Paling Bahagia

RILIS terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang World Happiness Report 2016 memosisikan negara-negara Skandinavia—Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia—berada di puncak tertinggi negara paling bahagia di Planet Bumi. Dari 157 negara sasaran riset yang tercakup dalam World Happiness Report 2016, Indonesia berada di peringkat 79. Negara-negara dengan perekonomian paling mencolok dewasa ini seperti Tiongkok dan India, masing-masing berada di peringkat 83 dan 118. Negara-negara dengan establishment perekonomian terpenting di Eropa dan Asia, yakni Jerman dan Jepang, masing-masing berada di peringkat 16 dan 53. Dua raksasa perekonomian Benua Amerika, yakni Amerika Serikat dan Brasil, masing-masing menduduki peringkat 13 dan 17. 

  • Written by

Dari Massa Mengambang ke Parpol Mengambang

MASSA mengambang (floating mass) pada era Orde Baru ditandai oleh hadirnya tiga partai politik untuk keperluan formal beraura basa-basi. Dengan massa mengambang, rezim kekuasaan melakukan upaya-upaya sengaja agar publik apolitik atau teralienasi dari parpol, sehingga tak perlu menyalurkan aspirasi secara langsung ke dalam wadah parpol. Dengan skenario seluruh kebutuhan publik—seperti sembako murah dan tersedianya pelayanan dasar berupa Puskesmas dan SD Inpres—direspons secara cepat oleh rezim kekuasaan, maka hubungan antara parpol dan massa rakyat hanya berlangsung intens pada saat pemilihan umum lima tahunan. Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sekadar hadir sebagai "pemanis" kekuasaan agar otoritarianisme Orde Baru tak terlampau mencolok mata. Setelah Orde Baru berlalu, kekuasaan negara dan pemerintahan terkonfigurasi dalam politik multipartai. Namun, parpol itu sendiri justru malah mengambang. 

  • Written by
Subscribe to this RSS feed

Galeri Editorial

ULASAN TERBARU

17-12-2017

Selanjutnya

INFO GRAFIK