header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Setelah Pesta 20 Oktober

JABATAN presiden di Indonesia sesungguhnya adalah jabatan yang menjebak. Di satu sisi, keterpusatan serta keistimewaan kekuasaannya begitu memikat sehingga menarik minat banyak orang, di sisi yang lain sesungguhnya secara politik ia rawan dan lemah. Rawan karena dengan keterpusatannya ia menjadi sasaran segala kritik untuk dijatuhkan. Lemah, karena secara institusional, ia mesti menghadapi legislatif dengan legitimasi setara karena sama-sama dipilih langsung.

Oposisi

EFORIA sudah selesai. Pemerintahan baru segera terbentuk. Maka, slogan segera diganti program. Reputasi pemerintah ada pada prestasinya, yaitu kerja cepat dan kerja benar. Ideologi akan didera oleh metodologi. Headline akan dikejar oleh deadline. Artinya, politik tak lagi ada di jalanan. Kebijakan pemerintah akan ditagih sesuai janji kampanye. Di situ program pemerintah akan diuji konsistensi ideologisnya oleh para pendukung populisnya. Tetapi yang lebih berat sesungguhnya adalah ujian pihak oposisi terhadap kapasitas politik dan kapabilitas teknokratik pemerintahan baru ini. Di situ metodologi memerintah diuji.

Menjelang Pergantian Kekuasaan

TIGA hari lagi akan berlangsung suatu peristiwa besar bagi dunia politik Indonesia yaitu serah-terima kekuasaan dari presiden lama, Susilo Bambang Yudhoyono, kepada presiden terpilih Joko Widodo. Dengan sengaja istilah “serah-terima kekuasaan” dipakai karena pergantian presiden adalah puncak dari seluruh pekerjaan elektoral yang dijalankan beringkat-tingkat sejak pemilihan parlemen sampai ke pemilihan kepresidenan untuk mencari dan menetapkan para penguasa.

Utomo Sahabatku

Sahabat

Kesan awal saya, ketika masuk LP3ES tahun 1976, Utomo adalah seorang parlente; pakaian selalu rapih; kadang-kadang seragam putih-putih. Selalu berkaca mata ray ban kalau berjalan di luar, yang kalau tidak dipakai diselip di ikat pinggangnya.

Kami bersahabat baik, meskipun ketika saya masuk LP3ES menimbulkan kontroversi di sana karena saya dianggap “susupan” katolik, dan jangan-jangan “agen” CSIS. Ada sekurang-kurangnya dua orang yang tidak/tidak perduli dengan pendapat seperti itu yaitu Ismid Hadad, dan Utomo. Ismid memang datang ke Yogya untuk mencari saya untuk Prisma; sedang Utomo tidak perduli dengan semua isu itu.

Subscribe to this RSS feed

Galeri Editorial

ULASAN TERBARU

17-12-2017

Selanjutnya

INFO GRAFIK